Pendidikan

Sekolah Asrama Taruna Papua Tanamkan Disiplin dan Kemandirian Sejak Dini

×

Sekolah Asrama Taruna Papua Tanamkan Disiplin dan Kemandirian Sejak Dini

Sebarkan artikel ini
Guru pendamping Sekolah Asrama Taruna Papua, Anaice Pigai, saat ditemui di kantor BMKG Timika (Foto: Yani/ Torangbisa.com)

Timika, Torangbisa.com – Sistem pendidikan berasrama di Sekolah Asrama Taruna Papua dinilai mampu membentuk karakter disiplin, sopan santun, dan kemandirian siswa sejak usia dini. Para siswa bahkan dibiasakan bangun sejak pukul 04.00 pagi sebagai bagian dari pembinaan kedisiplinan.

Hal tersebut disampaikan Guru Pendamping Sekolah Asrama Taruna Papua, Anaice Pigai, saat diwawancarai awak media di kantor Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Selasa (10/03/2026).

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

Menurut Anaice, pendidikan di sekolah asrama memiliki keunggulan dibandingkan sekolah pada umumnya, terutama dalam pembentukan karakter siswa.

“Kalau dilihat dari sekolah luar, keunggulannya lebih kepada sopan santun. Di sana diajarkan 5S, sopan santun dan disiplin. Yang paling menonjol adalah disiplin, karena mereka sudah dibiasakan bangun sejak jam 4 pagi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, para siswa yang tinggal di asrama juga dilatih untuk mandiri. Berbeda dengan anak-anak yang tinggal bersama orang tua, para siswa di asrama harus mengatur aktivitasnya sendiri dengan pendampingan dari para pembina.

“Kalau anak-anak pada umumnya harus dibangunkan oleh orang tua dan disiapkan sarapan, di asrama mereka belajar mandiri. Hanya pembina yang bertugas mendampingi mereka,” jelasnya.

Selain pembinaan karakter, fasilitas yang disediakan di sekolah tersebut juga cukup lengkap untuk menunjang kegiatan belajar para siswa. Fasilitas itu mencakup sarana olahraga, kesenian, hingga perlengkapan belajar di dalam kelas.

“Fasilitasnya cukup banyak, mulai dari olahraga, kesenian, sampai kebutuhan makan dan minum juga lengkap. Di kelas juga sudah tersedia TV dan kipas angin sehingga anak-anak bisa belajar dengan nyaman,” katanya.

Anaice menambahkan, setiap kelas telah dilengkapi dengan sarana pendukung belajar seperti televisi dan kipas angin, sehingga suasana belajar menjadi lebih nyaman bagi para siswa.

Sebagai guru pendamping, ia berharap para prataruna yang sedang menempuh pendidikan dapat tumbuh menjadi pribadi yang berwibawa, berprestasi, serta memiliki ketakwaan kepada Tuhan.

“Harapan kami sangat besar agar anak-anak yang kami didik bisa menjadi pribadi yang sukses, berprestasi, dan bertakwa kepada Tuhan,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan bahwa dukungan orang tua terhadap pendidikan anak di sekolah asrama sangat besar. Meskipun terkadang ada siswa yang ingin pulang ke rumah, orang tua tetap memberikan dorongan agar anak-anak tetap menyelesaikan pendidikan mereka.

“Dorongan dari orang tua sangat besar agar anak-anak tetap sekolah demi masa depan mereka,” ujarnya.

Lebih lanjut, Anaice menjelaskan bahwa perkembangan siswa kelas awal cukup signifikan sejak mengikuti sistem pembelajaran di sekolah tersebut.

Hal ini karena sekolah menerapkan metode Montessori Method yang menekankan pembelajaran menggunakan benda konkret.

“Awalnya kemampuan mereka masih di bawah, tetapi setelah satu sampai dua bulan mengikuti pembelajaran dengan alat peraga konkret di kelas, perkembangan mereka mulai terlihat,” jelasnya.

Dengan metode tersebut, siswa diharapkan dapat memahami materi pelajaran secara lebih mudah sekaligus menumbuhkan kedisiplinan dalam proses belajar.