Scroll untuk baca artikel
Peristiwa

Puluhan Dapur Rumah Warga Doku Mira Tergenang Air Laut, Penahan Ombak Ambruk dan Tertimbun Pasir

×

Puluhan Dapur Rumah Warga Doku Mira Tergenang Air Laut, Penahan Ombak Ambruk dan Tertimbun Pasir

Sebarkan artikel ini
Kondisi rumah warga yang diterima ombak (Foto: Istimewa)

Morotai Timur, Torangbisa.com – Sedikitnya lebih dari 20 rumah warga di Desa Doku Mira, Kecamatan Morotai Timur, Kabupaten Pulau Morotai, kembali terdampak genangan air laut akibat pasang tinggi dan kerusakan bangunan penahan ombak di kawasan pesisir.

Kondisi tersebut terpantau media ini pada Senin (31/8/2026), sejak pagi hingga malam hari. Sejumlah titik di sepanjang garis pantai Desa Doku Mira terlihat mengalami kerusakan cukup parah. Bangunan penahan ombak yang seharusnya menjadi pelindung permukiman warga tampak telah ambruk, sementara bagian lainnya tertimbun pasir dan material yang dibawa gelombang laut.

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

Dampaknya langsung dirasakan warga yang rumahnya berada di bibir pantai. Air laut masuk hingga ke bagian dapur rumah, bahkan di sejumlah rumah genangan air terlihat semakin mendekati bagian utama bangunan.

Tidak hanya air laut, pasir yang terbawa gelombang juga terus menumpuk di sekitar rumah warga. Beberapa dapur rumah bahkan nyaris tertimbun pasir akibat material pantai yang terdorong masuk oleh gelombang.

Situasi semakin mengkhawatirkan ketika malam tiba. Pantauan media ini menunjukkan warga harus beraktivitas menggunakan senter untuk memantau pergerakan air laut yang masuk ke lingkungan rumah mereka. Warga tampak saling membantu menghalangi air laut agar tidak semakin jauh masuk ke dalam rumah.

Kondisi tersebut membuat warga yang tinggal di kawasan pesisir harus meningkatkan kewaspadaan setiap kali angin kencang dan air laut mulai pasang. Mereka khawatir, jika kondisi cuaca ekstrem kembali terjadi, air laut dapat menerobos lebih jauh ke permukiman dan menyebabkan kerusakan yang lebih besar.

Warga menilai persoalan utama bukan hanya tingginya gelombang, tetapi juga kondisi bangunan penahan ombak yang sudah rusak dan dinilai tidak lagi mampu memberikan perlindungan maksimal.

Sebagian struktur talud atau penahan ombak telah roboh. Sementara bangunan yang masih berdiri dinilai terlalu rendah untuk menghadapi kondisi air laut ketika mencapai pasang tertinggi.

Akibatnya, gelombang laut dapat melewati bagian atas bangunan penahan ombak dan langsung menghantam kawasan permukiman.

Kondisi ini juga membuat pasir dan material lainnya terbawa masuk ke sekitar rumah warga. Jika tidak segera ditangani, warga khawatir abrasi akan terus mengikis kawasan pesisir dan memperbesar ancaman terhadap rumah-rumah yang berada di dekat garis pantai.

Pemerintah Desa Doku Mira bersama masyarakat setempat menyebutkan, persoalan abrasi dan masuknya air laut ke permukiman bukan baru terjadi tahun ini.

Kondisi tersebut disebut telah berlangsung sejak 2025, tepatnya pada bulan Ramadan. Bahkan, warga mengaku pernah mengalami situasi yang jauh lebih parah ketika pasang tinggi terjadi pada tahun sebelumnya.

Salah seorang warga terdampak, Iskal Tohau, mengungkapkan bahwa pada saat itu air laut masuk hingga ke dalam rumah warga

“Waktu puasa tahun kemarin, kami berbuka dan makan sahur di atas air karena air laut masuk ke dalam rumah. Bahkan air laut sampai menembus jalan umum yang beraspal,” ujar Iskal.

Menurutnya, kondisi yang kembali terjadi saat ini menunjukkan bahwa persoalan tersebut belum benar-benar mendapatkan penanganan yang mampu memberikan perlindungan jangka panjang bagi masyarakat pesisir.

Iskal mengatakan warga saat ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah, khususnya instansi yang memiliki kewenangan dalam penanggulangan bencana dan pembangunan infrastruktur perlindungan pantai.

“Kami meminta dinas terkait, Badan Penanggulangan Bencana dan DPRD Morotai, tolong buatkan kami penahan ombak atau talud secepat mungkin. Kami setiap malam harus waspada karena angin dan air laut selalu masuk ke rumah-rumah kami. Tolong jangan tutup mata,” tegasnya.

Bagi warga, pembangunan kembali penahan ombak bukan lagi sekadar kebutuhan infrastruktur, melainkan kebutuhan mendesak untuk melindungi rumah dan keselamatan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir.

Warga berharap pemerintah tidak hanya memperbaiki bagian talud yang telah ambruk, tetapi melakukan penanganan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kondisi pasang tertinggi, kekuatan gelombang, serta karakteristik garis pantai di Desa Doku Mira.

Pemerintah Desa Doku Mira juga sudah berusaha menyampaikan kondisi tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai agar dapat segera mendapat perhatian dan penanganan.

Namun, pihak desa menyebut pada Senin (31/8/2026), Bupati dan Wakil Bupati Pulau Morotai sedang berada di luar daerah sehingga penyampaian secara langsung belum dapat dilakukan.

Masyarakat berharap kondisi tersebut tidak berhenti pada laporan dan pendataan semata. Mereka meminta pemerintah segera turun ke lapangan untuk melihat langsung kondisi permukiman, kerusakan penahan ombak, serta ancaman abrasi yang semakin dekat dengan rumah warga.

Pasalnya, bagi masyarakat Doku Mira, air laut bukan lagi sekadar fenomena pasang surut. Air laut telah masuk ke ruang hidup mereka, menggenangi dapur, membawa pasir hingga ke sekitar rumah, dan memaksa warga berjaga pada malam hari.

Warga khawatir, apabila tidak segera dilakukan pembangunan penahan ombak yang lebih kuat dan sesuai dengan kondisi pasang tertinggi, kerusakan akan semakin meluas dan rumah-rumah warga di kawasan pesisir akan berada dalam ancaman yang lebih besar.

Masyarakat pun mendesak Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, DPRD, BPBD, serta instansi teknis terkait untuk segera melakukan peninjauan langsung dan mengambil langkah konkret sebelum kondisi tersebut berkembang menjadi bencana yang lebih serius.