Timika, Torangbisa.com – Aksi pemblokadean jalan kembali terjadi di Jalan Ahmad Yani tembusan gorong-gorong pada Sabtu malam (28/2/2026) sekitar pukul 20.23 WIT.
Para pendulang emas tradisional memadati ruas jalan sebagai bentuk protes atas belum terjualnya hasil dulang mereka.
Situasi yang sempat memanas itu langsung direspons oleh Kapolres Mimika, AKBP Billyandha Hildiario Budiman, yang turun langsung ke lokasi untuk berdialog dengan massa.
Ia menegaskan bahwa kehadirannya untuk mencari solusi, bukan membenturkan aparat dengan masyarakat.
“Karena besok hari Minggu mungkin bank masih tutup. Senin bank buka. Kita ini cari solusi dulu. Kalau misalnya besok bisa, kita usahakan besok bisa untuk beli emas,” ujar Kapolres di hadapan para pendulang.
Ia juga memanggil Ketua Pendulang, Simon Rahayaan, untuk hadir di Polres Mimika guna membahas jalan keluar terbaik. Kapolres menekankan pentingnya tanggung jawab para ketua kelompok terhadap anggotanya.
Menurutnya, apabila pembeli lokal tidak mampu menampung emas para pendulang, pihak kepolisian siap mencarikan investor atau pembeli dari luar daerah. Bahkan, ia mengaku telah berkoordinasi dengan Kapolda untuk membantu mencarikan solusi.
“Kita tidak mau dibenturkan aparat dengan masyarakat. Kita tidak ada masalah. Kita butuh solusi. Duduk baik-baik dengan kepala dingin. Hati boleh panas, tapi kepala tetap dingin,” tambahnya.
Sementara itu, Kasat Sabhara Polres Mimika, Frengky Tethol, juga mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
“Kita sama-sama menjaga kamtibmas supaya Kota Timika tetap aman. Kami polisi sangat paham ini menyangkut kebutuhan ekonomi bapak-bapak semua. Tapi jangan sampai ada yang mabuk-mabuk dan ribut seperti malam itu,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Pendulang Simon Rahayaan menilai isu tidak adanya uang dari pembeli emas merupakan permainan untuk menekan harga emas di tingkat lokal.
“Mereka buang isu bahwa uang habis. Ini kebiasaan buruk. Sengaja tutup dulu supaya harga emas turun. Padahal emas jadi, dilepas, uang ada kok. Ini isu liar saja,” kata Simon.
Ia menegaskan bahwa pendulang tradisional di Kabupaten Mimika berjumlah sekitar 8 hingga 10 ribu orang dan menjadi salah satu penggerak ekonomi terbesar di daerah tersebut.
“Teman-teman dulang ini investor terbesar di Kabupaten Mimika. Miliaran rupiah beredar dari hasil dulang. Mereka cuma berharap, pergi cari emas sudah setengah mati, turun jual jangan setengah mati,” tegasnya.
Untuk sementara, hasil koordinasi antara pendulang dan pihak kepolisian menghasilkan kesepakatan agar massa membubarkan diri demi menjaga situasi tetap kondusif.
“Malam ini saya minta teman-teman bubar dulu. Saya akan koordinasi dengan Pak Kapolres untuk cari investor. Kalau malam ini dapat investor, besok kita akomodir hasil dulang yang belum terjual,” ujar Simon.













