AdveditorialSejarah

Napak Tilas Masuknya Injil ke Tanah Papua dan Peran Kesultanan Tidore

×

Napak Tilas Masuknya Injil ke Tanah Papua dan Peran Kesultanan Tidore

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi sejarah: Perjalanan Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler menumpang perahu kora-kora menuju Pulau Mansinam, Papua Barat, 5 Februari 1855. Perjalanan ini difasilitasi Kesultanan Tidore dan menjadi tonggak awal peradaban modern di Tanah Papua.

TIMIKA, (Torangbisa.com) – Setiap tanggal 5 Februari, Tanah Papua mengenang sebuah peristiwa bersejarah yang mengubah arah perjalanan masyarakatnya. Bukan dengan dentuman senjata atau penaklukan kekuasaan, melainkan melalui sebuah perjumpaan damai di pesisir Pulau Mansinam.

Hari itu, Injil pertama kali masuk ke Tanah Papua menandai dimulainya babak baru peradaban yang dibangun di atas iman, pendidikan, dan kemanusiaan.

Belajar dari historis itu, bahwa Sejarah Papua tidak dapat dilepaskan dari peran penting Kesultanan Tidore dalam membuka jalan awal peradaban modern di Tanah Papua.

Berdasarkan penelusuran penulis di berbagai referensi sejarah mulai dari arsip dari berbagai sumber hingga literatur akademik bahwa hubungan Tidore dan Papua bukan sekadar relasi kekuasaan, melainkan ikatan sejarah yang membentuk fondasi sosial, budaya, dan kemanusiaan di wilayah timur Nusantara.

Salah satu tonggak terpenting dalam sejarah tersebut adalah peristiwa yang kemudian dikenal sebagai “Tumpangan Perahu Sultan Tidore”.

Peristiwa ini mengantarkan dua misionaris asal Jerman, Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler, menuju Pulau Mansinam pada pertengahan abad ke-19 sebuah perjalanan yang kelak mengubah arah sejarah Papua.

Kesultanan Tidore dan Papua

Dalam historiografi Nusantara, wilayah pesisir Papua khususnya kawasan Kepala Burung selama berabad-abad berada dalam pengaruh politik dan adat Kesultanan Tidore. Pengaruh ini tidak hanya diwujudkan dalam struktur kekuasaan, tetapi juga melalui jaringan perdagangan, diplomasi adat, dan perlindungan sosial yang diakui oleh para pemimpin lokal di Papua.

Karena itu, ketika Ottow dan Geissler berniat memasuki Papua, mereka terlebih dahulu menghadap Sultan Tidore. Dalam berbagai catatan sejarah, Sultan kemudian memberikan surat pengantar resmi, sekaligus memerintahkan para kepala suku di wilayah Papua agar menerima dan melindungi kedua misionaris tersebut.

Selain legitimasi politik dan adat, Sultan Tidore juga memfasilitasi transportasi laut melalui kapal dagang yang berlayar rutin ke pesisir Papua yang dalam ingatan sejarah dikenang sebagai tumpangan perahu Sultan Tidore.

Perjalanan Panjang Menuju Mansinam

Perjalanan Ottow dan Geissler bukanlah perjalanan singkat. Mereka berangkat dari Eropa pada 1852 dan tiba di Batavia pada Oktober tahun yang sama. Di Batavia, keduanya tertahan hampir dua tahun untuk mengurus perizinan pemerintah Hindia Belanda, mempelajari bahasa Melayu sebagai lingua franca, serta menghadapi kenyataan pahit wafatnya salah satu rekan mereka, Schneider, sebelum sempat melanjutkan perjalanan ke Papua.

Pada 1854, mereka melanjutkan perjalanan ke Makassar dan kemudian ke Ternate, pusat kekuasaan Maluku Utara. Di wilayah inilah proses diplomasi dengan Sultan Tidore berlangsung cukup lama sekitar delapan bulan sebelum akhirnya izin dan dukungan penuh diberikan.

5 Februari 1855: Titik Balik Sejarah

Puncak perjalanan bersejarah itu terjadi pada 5 Februari 1855, ketika Ottow dan Geissler mendarat di Pulau Mansinam, Teluk Doreri. Peristiwa ini kemudian diperingati sebagai Hari Pekabaran Injil (HPI) di Tanah Papua dan dikenang sebagai titik awal perubahan sosial yang besar.

Begitu menginjakkan kaki di pantai Mansinam, keduanya berlutut dan mengucapkan doa syukur yang tercatat dalam sejarah.

“In Gottes Namen betraten wir das Land” (Dengan nama Tuhan kami menginjak tanah ini). Sejak saat itu, Pulau Mansinam berkembang menjadi pusat peradaban baru di Papua.

Mansinam dan Transformasi Sosial

Pasca-pendaratan tersebut, berbagai perubahan mulai terjadi. Pendidikan membaca dan menulis diperkenalkan, keterampilan bertani diajarkan, dan pola hidup masyarakat perlahan mengalami transformasi tanpa menghilangkan adat istiadat setempat. Hingga kini, jejak sejarah itu masih dapat dilihat melalui peninggalan fisik seperti sumur tua peninggalan Ottow–Geissler, fondasi gereja pertama, serta Situs Salib Suci Mansinam.

Warisan Toleransi Lintas Iman

Lebih dari sekadar peristiwa keagamaan, kisah tumpangan perahu Sultan Tidore berdasarkan penelusuran berbagai sumber sejarah menjadi contoh nyata toleransi lintas agama yang telah hidup dalam tradisi Nusantara. Sebuah kesultanan Islam membuka jalan dan memberikan perlindungan bagi penyebaran agama Kristen demi kemajuan peradaban dan kemanusiaan di wilayah timur Indonesia.

Rencana pembangunan replika perahu Kesultanan Tidore di Pulau Mansinam oleh pemerintah daerah Papua Barat menjadi simbol penghormatan terhadap peran historis tersebut. Monumen ini diharapkan tidak hanya menjadi pengingat sejarah, tetapi juga penegasan bahwa Papua tumbuh melalui dialog, keterbukaan, dan kerja sama lintas budaya.

Sejarah Mansinam mengajarkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari dominasi, melainkan dari kesediaan untuk membuka ruang bagi perbedaan. Dari tumpangan perahu Sultan Tidore hingga pantai Mansinam, toleransi telah menjadi fondasi penting perjalanan sejarah Papua dan menjadi pesan kebangsaan yang relevan bagi Indonesia hari ini.

Penutup Editorial: Mansinam dan Indonesia Hari Ini

Dalam konteks Indonesia hari ini ketika perbedaan kerap dipolitisasi dan identitas sering dipertentangkan sejarah tumpangan perahu Sultan Tidore menawarkan cermin kebangsaan yang jernih. Bahwa jauh sebelum republik ini lahir, nilai toleransi, dialog lintas iman, dan penghormatan terhadap kemanusiaan telah dipraktikkan secara nyata di pinggiran Nusantara.

Mansinam bukan sekadar situs sejarah keagamaan, melainkan simpul kebangsaan. Dari pulau kecil di Teluk Doreri itu, kita belajar bahwa Indonesia dibangun bukan dari satu warna, satu keyakinan, atau satu kuasa, melainkan dari keberanian untuk membuka ruang bagi yang berbeda. Kesediaan Sultan Tidore seorang pemimpin Muslim yang tulus dan ikhlas memberikan jalan bagi misionaris Kristen adalah bukti bahwa peradaban tumbuh dari etika kemanusiaan, bukan dari dominasi identitas.

Karena itu, merawat ingatan sejarah Mansinam sejatinya adalah merawat Indonesia itu sendiri. Pembangunan monumen, peringatan Hari Pekabaran Injil, dan penulisan ulang sejarah Papua harus ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperkuat narasi kebangsaan yang inklusif dan adil. Papua bukan halaman belakang Indonesia, melainkan salah satu halaman pertama tempat nilai-nilai persatuan diuji dan dibuktikan.

Sejarah telah memberi teladan. Tinggal pilihan kita hari ini: apakah ingin mewarisi semangat keterbukaan para pendahulu, atau justru membiarkan perahu kebangsaan terombang-ambing oleh prasangka dan kepentingan sempit.

Dari Mansinam, sejarah seolah berpesan Indonesia hanya akan utuh jika dibangun di atas toleransi, penghormatan, dan kemanusiaan.