Morotai, Torangbisa.com — Kebakaran hutan dan lahan semakin meluas di Kabupaten Pulau Morotai. Pantauan Torangbisa.com di lokasi, Minggu (4/10/2026), kobaran api mengepung sejumlah blok permukiman dan lahan pertanian warga di SP2 Desa Nakamura, Kecamatan Morotai Selatan.
Api terlihat melanda Blok A, Blok B hingga Blok F, Pada Desa tersebut, kobaran bahkan telah menjalar mendekati dan memasuki kawasan permukiman warga.
Asap tebal dan titik-titik api masih terlihat di sejumlah lokasi saat proses pemadaman berlangsung.
Dampaknya cukup besar. Puluhan ribu tanaman milik masyarakat dilaporkan terdampak, mulai dari pala, cengkeh, kelapa hingga berbagai tanaman buah-buahan.
Kepala Desa Nakamura, Yakit Arsyad, mengatakan dari sekitar 273 kepala keluarga (KK) di desanya, sekitar 200 KK merupakan petani. Rata-rata setiap keluarga memiliki lahan pertanian sekitar dua hektare.
Dengan hitungan tersebut, total lahan pertanian masyarakat diperkirakan mencapai sekitar 400 hektare. Dari luasan itu, sekitar 250 hektare diperkirakan telah terdampak kebakaran.
“Kalau 200 KK dikalikan dua hektare, berarti sekitar 400 hektare. Dari jumlah itu, diperkirakan sekitar 250 hektare sudah terbakar,” ujar Yakit.
Ia mengatakan tingkat kerusakan tanaman berbeda-beda, dengan perkiraan berada pada kisaran 35 hingga 75 persen, tergantung kondisi lahan dan jenis tanaman yang terbakar.
Tanaman cengkeh dan buah-buahan menjadi salah satu yang paling terdampak. Sementara tanaman kelapa, menurut Yakit, sebagian masih memiliki kemungkinan bertahan meski terbakar.
“Kalau kelapa terbakar, biasanya tidak langsung mati. Yang sangat disayangkan itu tanaman cengkeh dan buah-buahan seperti rambutan, durian dan lainnya. Banyak yang mati terbakar,” katanya.
Kebakaran tidak hanya menghanguskan lahan pertanian. Api juga telah masuk ke kawasan permukiman Desa Nakamura.
Yakit menyebut api mulai mendekati kampung sekitar pukul 14.00 WIT. Titik api disebut berasal dari arah barat, tepatnya di antara wilayah Desa Aha dan Nakamura.
Meski api telah masuk ke kawasan permukiman, hingga saat ini tidak ada rumah warga yang dilaporkan terbakar.
Sejumlah bangunan yang tidak dihuni karena pemiliknya berada di luar daerah ikut terdampak. Bangunan MCK yang sudah tidak berfungsi juga terbakar, sementara salah satu MCK yang masih digunakan di Blok B turut terdampak.
“Alhamdulillah, rumah warga tidak ada yang terbakar. Hanya ada bangunan-bangunan yang tidak dihuni karena pemiliknya sedang di kota. Ada juga MCK yang sudah tidak berfungsi yang terbakar,” jelasnya.
Selain lahan pertanian, kebakaran juga merambah kawasan hutan yang masuk dalam wilayah HPL dan HPT. Berdasarkan perkiraan kondisi lapangan, sekitar 60 persen kawasan tersebut telah terbakar, sementara sekitar 40 persen masih hijau.
“Kalau jumlah tanaman, diperkirakan sudah puluhan ribu pohon yang terdampak. Ada pala, cengkeh, kelapa, buah-buahan dan tanaman lainnya,” ungkap Yakit.
Kepala Satpol PP dan Damkar Kabupaten Pulau Morotai, Akri Yuti Wijaya, mengatakan pihaknya menerima sejumlah laporan kebakaran pada Minggu (4/10/2026). Laporan awal datang dari Camat Morotai Selatan Barat terkait kebakaran di Desa Wayabula. Tim Damkar kemudian bergerak menuju lokasi.
Namun, saat berada di Wayabula, laporan baru diterima bahwa kebakaran di SP2 Desa Nakamura semakin mendekati permukiman warga.
Akri kemudian mengambil keputusan untuk mengalihkan armada menuju Nakamura.
“Armada yang ada kami putar balik untuk menuju SP2. Kami harus segera mengatasi kebakaran karena api sudah mendekati rumah warga,” ujarnya.
Menurut Akri, keputusan tersebut diambil untuk mencegah dampak yang lebih besar.
“Kami tidak mau masyarakat cukup rugi karena tanaman pala dan cengkeh mati, tetapi rumah dan harta mereka juga hilang. Makanya kami ambil langkah cepat,” katanya.
Tim Damkar tiba di Desa Nakamura sekitar pukul 16.30 WIT dan langsung melakukan pemadaman di sejumlah titik.
Hingga sekitar pukul 19.06 WIT, proses pemadaman dan pendinginan masih berlangsung. Akri mengatakan sebagian besar titik api yang dilaporkan masyarakat telah berhasil ditangani, namun petugas masih melakukan penyisiran, terutama di titik api yang menjalar ke arah perkampungan.
Untuk penanganan tersebut, Damkar mengerahkan dua armada, masing-masing satu mobil pemadam kebakaran dan satu mobil suplai air. Dua tangki air digunakan dalam proses pemadaman.
Terkait penyebab kebakaran, Yakit menegaskan hingga kini belum dapat dipastikan. Ia meminta agar tidak ada pihak yang langsung dituduh sebagai penyebab kebakaran sebelum ada kepastian. Menurutnya, kondisi kemarau panjang membuat lahan sangat mudah terbakar.
Terlebih, sebagian titik api berada cukup jauh dari permukiman sehingga masyarakat kesulitan melakukan pengendalian sejak awal.
“Untuk penyebab kebakaran, kita tidak bisa menuduh seseorang karena pelakunya tidak diketahui. Bisa saja kebakaran terjadi akibat kondisi kemarau tanpa adanya campur tangan manusia,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah segera melakukan langkah antisipasi agar kebakaran tidak kembali mendekati permukiman dan meluas ke blok-blok warga.
“Khusus untuk masyarakat Desa Nakamura, saya berharap kita tetap sabar dalam menghadapi musim seperti ini. Kami juga meminta pemerintah untuk tidak menutup mata terhadap kondisi yang terjadi dan melakukan langkah-langkah antisipasi agar kebakaran tidak kembali meluas,” ucap Yakit.
Kebakaran yang kini mengepung sejumlah wilayah di SP2 Nakamura bukan hanya menyisakan asap dan lahan hangus. Ratusan hektare lahan masyarakat terdampak, sementara puluhan ribu tanaman yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga ikut menjadi korban amukan api.

















