Scroll untuk baca artikel
Hukum dan Kriminal

Dua Meteran Air di SP2 Digasak Maling, Warga Minta Dinas Terkait Evaluasi Pemasangan Meteran di Luar Rumah

×

Dua Meteran Air di SP2 Digasak Maling, Warga Minta Dinas Terkait Evaluasi Pemasangan Meteran di Luar Rumah

Sebarkan artikel ini
Dua unit Meteran Warga SP2 yang Maling, Sabtu (8/8/2026).

TIMIKA, torangbisa.com – Persoalan pelayanan air bersih di Kabupaten Mimika menghadapi tantangan baru. Bukan hanya soal ketersediaan dan kelancaran distribusi air kepada masyarakat, tetapi juga keamanan fasilitas meteran air yang berulang kali menjadi sasaran pencurian.

Terbaru, dua unit meteran air milik warga di kawasan SP2, Kelurahan Wanagon, Kabupaten Mimika, diduga dicuri maling pada Sabtu (8/8/2026).

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

Kedua pemilik rumah, Ahmad dan Sindi, mengaku kaget setelah mengetahui meteran air yang terpasang di bagian luar rumah mereka telah hilang.

Kondisi di lokasi menunjukkan bagian instalasi meteran yang sebelumnya terpasang kini dalam keadaan terbuka. Hilangnya meteran tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian bagi pemilik rumah, tetapi juga berpotensi mengganggu sistem pelayanan dan distribusi air bersih.

Warga setempat menilai persoalan pencurian meteran air perlu dilihat secara lebih luas. Jika pencurian terjadi berulang kali, pemerintah dan dinas terkait dinilai perlu mengevaluasi sistem pemasangan meteran yang berada di luar rumah dan mudah dijangkau.

Menurut ahmat, pemasangan meteran di lokasi terbuka memang memudahkan petugas melakukan pemeriksaan dan pencatatan penggunaan air. Namun, di sisi lain, posisi tersebut juga membuat meteran relatif mudah diakses oleh orang yang berniat melakukan pencurian.

Karena itu, warga meminta pemerintah dan instansi pengelola layanan air bersih mencari solusi yang tetap memudahkan petugas melakukan pengawasan, tetapi sekaligus memberikan perlindungan terhadap aset dan fasilitas air bersih milik masyarakat.

“Kalau meteran terus dipasang di luar dan mudah dijangkau, tentu rawan dicuri. Kami berharap dinas terkait mengevaluasi kembali sistem pemasangannya,” ujar Ahmat.

Persoalan pencurian meteran air juga dinilai dapat menjadi beban tambahan bagi pemerintah maupun pengelola layanan air bersih.

Ketika meteran dicuri, bukan hanya masyarakat yang dirugikan. Pemerintah atau pengelola layanan juga harus melakukan penanganan, pemeriksaan jaringan, penggantian meteran serta memastikan kembali sambungan air dapat berfungsi normal.

Jika kasus serupa terjadi berulang kali di sejumlah titik, maka anggaran, tenaga dan waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan air bersih justru tersedot untuk menangani kerusakan maupun kehilangan fasilitas.

Kondisi tersebut menjadi persoalan serius, terutama ketika masyarakat pada saat yang sama masih berharap adanya peningkatan kualitas dan pemerataan pelayanan air bersih.

Dengan kata lain, pencurian meteran air bukan sekadar persoalan kehilangan sebuah benda, tetapi dapat berdampak pada keberlangsungan pelayanan publik.

Warga SP2 meminta dinas terkait tidak hanya melakukan penggantian meteran yang hilang, tetapi juga mengevaluasi sistem pemasangan meteran secara menyeluruh.

Evaluasi dapat mencakup posisi meteran, sistem pengamanan, material pelindung, hingga mekanisme pengawasan terhadap jaringan air di lingkungan permukiman.

Warga mengusulkan agar meteran yang berada di lokasi rawan dapat diberikan pelindung atau kotak pengaman sehingga tidak mudah dilepas oleh orang yang tidak berkepentingan.

Selain itu, pengelola layanan air bersih juga diharapkan memiliki mekanisme pendataan dan pemantauan terhadap titik-titik yang pernah mengalami pencurian.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali.

Di sisi lain, warga juga menyadari bahwa menjaga fasilitas pelayanan publik bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah.

Masyarakat diharapkan ikut mengawasi lingkungan masing-masing dan segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan aktivitas mencurigakan di sekitar jaringan maupun meteran air.

Sebab, apabila fasilitas air bersih terus menjadi sasaran pencurian, masyarakat sendiri yang pada akhirnya akan merasakan dampaknya melalui terganggunya pelayanan.

Kasus di SP2 ini menjadi pengingat bahwa pembangunan dan peningkatan layanan air bersih membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah bertanggung jawab memastikan sistem pelayanan berjalan baik dan aman, sementara masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga fasilitas yang digunakan bersama.

Ahmad dan Sindi berharap kehilangan dua meteran air yang mereka alami menjadi perhatian serius. Mereka tidak ingin persoalan serupa terus berulang dan warga harus kembali kehilangan meteran atau mengalami gangguan layanan akibat aksi pencurian.

Warga juga berharap pemerintah tidak berhenti pada penggantian meteran yang hilang, tetapi mengambil langkah pencegahan agar fasilitas yang baru dipasang tidak kembali menjadi sasaran maling.

Peristiwa ini, pada akhirnya membuka persoalan yang lebih besar: bagaimana memastikan fasilitas air bersih dapat terlindungi dari pencurian, sekaligus menjamin masyarakat memperoleh pelayanan air yang aman, lancar dan berkelanjutan.

Bagi masyarakat, air bersih merupakan kebutuhan dasar. Karena itu, perlindungan terhadap meteran dan jaringan air seharusnya menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas pelayanan publik.

Warga kini menunggu langkah konkret pemerintah dan dinas terkait untuk mengevaluasi sistem pemasangan meteran air, memperkuat pengamanan, serta mencegah aksi pencurian yang terus merugikan masyarakat dan berpotensi menambah beban pengelolaan layanan air bersih.

 

Hukum dan Kriminal

Tolikara, Torangbisa.com – Satgas Kepolisian yang tergabung dalam Operasi Damai Cartenz-2026 bersama Polres Tolikara dan Polsek illu bergerak cepat melakukan evakuasi korban sekaligus penyelidikan menyeluruh terkait peristiwa penembakan terhadap pekerja proyek jalan di sekitar kawasan Kali Kabur, Distrik Kanggime, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, Minggu (2/8/2026).