Dinkes Mimika

Dinkes Mimika Perkuat Layanan Jemput Bola di Amamapare, Fokus Ibu Hamil dan Wilayah Terpencil

×

Dinkes Mimika Perkuat Layanan Jemput Bola di Amamapare, Fokus Ibu Hamil dan Wilayah Terpencil

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra (foto: Yani/ Torangbisa.com)

Timika, Torangbisa.com – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra, mengatakan bahwa pihaknya terus memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah terpencil melalui strategi jemput bola dan pelayanan dari rumah ke rumah.

Ia menjelaskan, berdasarkan petunjuk teknis (juknis), seluruh puskesmas akan terus melakukan sosialisasi, pelatihan, serta penguatan sistem pelaporan sebagai bagian dari peningkatan kinerja pelayanan kesehatan.

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

“Puskesmas tetap kami dorong untuk sosialisasi, pelatihan, termasuk penguatan pelaporan sesuai kebutuhan dinas kesehatan,” ujarnya.

Reynold menyoroti tantangan pelayanan di wilayah seperti Amamapare. Secara geografis, Amamapare berada di Pulau Karaka, sementara ibu kota distriknya berada di Manasari. Kondisi ini membuat tenaga kesehatan harus pulang-pergi dalam memberikan pelayanan.

Ia mengungkapkan, keterbatasan transportasi membuat petugas harus kembali pada jam tertentu, sehingga pada sore hingga malam hari tidak selalu ada tenaga kesehatan yang siaga di lokasi.

“Ini sudah menjadi bahan diskusi di tingkat kabupaten. Petugas kesehatan juga memiliki kebutuhan dasar yang sama seperti masyarakat, termasuk kebutuhan air bersih dan fasilitas pendukung lainnya,” jelasnya.

Sebagai solusi, Dinas Kesehatan menerapkan dua strategi utama. Pertama, pelayanan langsung dari rumah ke rumah. Kedua, penanganan khusus bagi kelompok risiko tinggi, terutama ibu hamil.

“Ibu hamil dijemput oleh petugas, dibawa ke puskesmas untuk diperiksa, kemudian diantar kembali ke rumah. Jadi kami tidak bisa hanya duduk di gedung, tapi harus proaktif,” tegasnya.

Jika dalam pemeriksaan ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lanjutan, pasien akan segera dirujuk.

Reynold menambahkan, saat ini terdapat lima tenaga kesehatan yang ditugaskan untuk siaga di wilayah tersebut. Namun, tantangan mendasar seperti kapasitas air bersih, transportasi, hingga kondisi cuaca dengan curah hujan tinggi tetap menjadi faktor yang memengaruhi pelayanan.

Menurutnya, persoalan ini bukan hanya urusan sektor kesehatan, tetapi juga membutuhkan komitmen bersama pemerintah distrik dan kampung, termasuk dukungan infrastruktur dasar.

“Ini bukan hanya masalah kesehatan, tapi juga infrastruktur dan tata kelola wilayah. Harus dikaji bersama dari berbagai aspek,” ujarnya.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Dinas Kesehatan Mimika memastikan pelayanan tetap berjalan dengan pendekatan adaptif dan kolaboratif, terutama untuk menjangkau masyarakat di wilayah-wilayah sulit.