Khas Redaksi

Dari Pendopo Rumah Negara, Asa Damai untuk Perang Kwamki Narama Mulai Dinyalakan

×

Dari Pendopo Rumah Negara, Asa Damai untuk Perang Kwamki Narama Mulai Dinyalakan

Sebarkan artikel ini
Bupati Mimika Johannes Rettob bersama Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong, dan Pemerintah Kabupaten Puncak, pimpinan perang, serta keluarga lima korban dari kubu Dang. Pertemuan berlangsung pada Senin (6/1/2026) malam di Pendopo Rumah Negara, SP 3.

TIMIKA, (Torangbisa.com) — Harapan untuk mengakhiri konflik antarwarga asal Kabupaten Puncak yang pecah di wilayah Mimika kembali menguat. Pimpinan perang, kepala-kepala suku, serta keluarga lima korban meninggal dari kubu Dang secara terbuka menyatakan kesiapan untuk menempuh jalan damai.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan yang difasilitasi Bupati Mimika Johannes Rettob bersama Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong, dengan melibatkan Pemerintah Kabupaten Puncak, pimpinan perang, serta keluarga lima korban dari kubu Dang. Pertemuan berlangsung pada Senin (6/1/2026) malam di Pendopo Rumah Negara, SP 3.

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan, dialog tersebut digelar untuk menyerap langsung aspirasi kubu Dang sebagai bagian dari upaya menghentikan konflik berkepanjangan.

“Setelah mendengar aspirasi dari bapak-bapak sekalian, kami juga akan mendengar pandangan dari pihak sebelah. Tujuan kita satu, perdamaian agar seluruh aktivitas masyarakat bisa kembali berjalan normal,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Puncak Naftali Akawal mengungkapkan rasa syukur atas terlaksananya pertemuan tersebut. Menurutnya, komunikasi yang terbuka menjadi kunci agar konflik yang telah merenggut banyak korban jiwa dapat segera diakhiri.

“Malam ini pemerintah memberikan ruang seluas-luasnya bagi keluarga korban untuk menyampaikan aspirasi mereka,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Puncak Nenu Tabuni menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam sejak konflik terjadi. Berbagai langkah telah ditempuh, mulai dari koordinasi dengan Kapolda, Kapolres, MRP, DPRP, Gubernur Papua Tengah, hingga unsur TNI dan Pemerintah Kabupaten Mimika.

Ia mengungkapkan, jumlah korban meninggal mencapai 11 orang, terdiri dari lima korban dari kubu Dang, lima dari kubu Newegalen, dan satu korban terakhir yang hingga kini masih menjadi pembahasan.

“Kita ini sama-sama orang Puncak. Perang terjadi di tanah Mimika yang menjadi wilayah hukum Polres Mimika. Pemerintah Puncak dan Mimika akan melapor ke gubernur dan kapolda agar proses perdamaian bisa dipercepat. Sekarang kita ingin dengar, mau damai atau lanjut,” tegasnya.

Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong menambahkan, konflik yang telah berlangsung hampir tiga bulan harus segera dihentikan. Menurutnya, pertikaian tersebut sudah terlalu banyak memakan korban sehingga perdamaian menjadi satu-satunya jalan yang masuk akal.

Dari kubu Dang, salah satu tokoh bernama Benyamin menyatakan kesediaan berdamai dengan syarat kubu Newegalen bersedia menerima penyelesaian atas korban terakhir. Jika kesepakatan tercapai, prosesi adat perdamaian atau bela kayu siap dilaksanakan dalam waktu dekat.

Perwakilan keluarga korban juga menyampaikan sikap senada. Seorang woemum menuturkan bahwa korban dari kedua kubu berasal dari marga yang sama, yakni Magai. Ia meminta agar Bupati dan Wakil Bupati Mimika serta Sekda Puncak memfasilitasi penerimaan korban terakhir oleh pihak Newegalen.

“Kami dari keluarga Pinggir Kiwak dan Linus Kiwak sepakat berdamai. Jika korban terakhir yang dibakar secara adat diterima, maka posisi sudah imbang. Jika tidak, konflik berpotensi berlanjut,” ungkapnya.

Usai pertemuan, Bupati Johannes Rettob menyampaikan bahwa pemerintah akan melanjutkan pendekatan kepada Lukius Newegalen sebagai bagian dari proses penyelesaian konflik. Jika pendekatan tersebut diterima, tahapan perdamaian akan dilaksanakan sesuai mekanisme adat yang disepakati bersama.

Ia juga mengimbau agar selama proses pendekatan berlangsung, kubu Dang menahan diri dan tidak lagi melakukan aksi perang, serta mendukung aparat keamanan demi menjaga situasi tetap kondusif.

“Kami harap selama proses ini berjalan, kelompok Dang tidak lagi melakukan perang. Mari kita dukung aparat keamanan agar perdamaian bisa terwujud,” ujarnya.

Pemerintah berharap dialog ini menjadi langkah awal menuju perdamaian permanen, sehingga konflik serupa tidak kembali terjadi dan stabilitas keamanan di tengah masyarakat dapat terus terjaga.

Khas Redaksi

Jakarta, Torangbisa.com – Penyanyi asal Medan, Ivananda Sinaga, resmi merilis single perdana Lagu Ambon berjudul “Takdir” di bawah label Maina Production. Lagu ciptaan Noce Tauran itu sudah tayang di kanal YouTube resmi Maina Production sejak 11 November 2025, dan hingga berita ini diturunkan telah diputar sebanyak 3.017 kali. Single ini diproduseri oleh Levi Karuiw.