AdveditorialKarya

“Cinta Seng Pasti” Resmi Dirilis, Fresly Nikijuluw Suarakan Cinta yang Datang Terlambat

×

“Cinta Seng Pasti” Resmi Dirilis, Fresly Nikijuluw Suarakan Cinta yang Datang Terlambat

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI: Single Terbaru Fresley Nikijuluw "Cinta Seng Pasti" (Dok/Foto:Torangbisa.com)

JAKARTA, (Torangbisa.com) — Musisi berdarah Maluku, Fresly Nikijuluw, kembali mengoyak ruang emosi pendengarnya lewat single terbarunya berjudul Cinta Seng Pasti.

Bukan sekadar lagu cinta, karya ini adalah pengakuan sunyi tentang perasaan yang hidup, namun tak pernah benar-benar dimiliki tentang bertahan dalam hubungan dengan kesadaran penuh bahwa diri sendiri sedang kalah perlahan.

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

Lagu ciptaan Levinus Kariuw ini resmi dirilis di platform YouTube dan langsung mendapat respons hangat. Dalam waktu 11 jam sejak peluncurannya, Cinta Seng Pasti telah ditonton 7.836 kali, menandakan kuatnya ikatan emosional antara lagu ini dan para pendengarnya, terutama mereka yang pernah mencintai dalam diam.

Balutan musik melankolis yang tenang berpadu dengan lirik yang jujur dan apa adanya. Fresly tidak berteriak, tidak menyalahkan. Ia memilih bernyanyi pelan, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri membiarkan luka itu terdengar tanpa perlu dirayakan.

Narasi Luka yang Sunyi dan Personal
Cinta Seng Pasti mengisahkan tragedi sunyi seorang lelaki yang menikahi perempuan yang secara fisik hadir di sisinya, namun secara batin masih terikat pada cinta masa lalu. Ini bukan kisah pengkhianatan yang gaduh, melainkan tentang kekalahan yang diterima dengan sadar tanpa drama, tanpa tuduhan.

Sejak bait awal, konflik emosional langsung menghantam:

“Orang bilang cinta itu anugrah terindah, tapi for beta akang barasa perih.”

Kalimat ini menjadi pintu masuk pada ironi besar: cinta yang dijanjikan sebagai kebahagiaan justru menjelma luka. Bagi tokoh “beta”, cinta bukan lagi anugerah, melainkan beban perasaan yang harus dipikul sendirian.

Kesadaran pahit itu memuncak saat ia menyadari satu kenyataan yang tak bisa dihindari.

“Ale pung mata bicara, masih ada dia yang ale cinta.”

Tanpa amarah, tanpa makian, lirik ini hanya menyampaikan satu hal: dirinya bukan tujuan akhir, hanya pengganti sementara.

Refrein sebagai Inti Tragedi
Di bagian refrein, luka itu mencapai titik paling jujur.

“Beta sadar hanya tampa singgah, for batahang di cinta yang seng pasti ini.”

Ungkapan “tampa singgah” menjadi metafora paling menyayat tentang posisi seorang lelaki yang hanya dijadikan tempat berhenti sejenak, bukan rumah untuk pulang. Ia bertahan bukan karena kepastian, melainkan karena cinta yang sudah terlanjur tumbuh dan sulit dilepaskan.

Tema salah waktu mengalir kuat sepanjang lagu.

“Ini cuma salah rasa beta, yang jatuh di tampa deng waktu yang salah.”

Pesan ini terasa dekat dan manusiawi: tidak semua cinta gagal karena kurang usaha, tetapi karena hadir ketika hati orang lain belum benar-benar kosong.

Bahasa Lokal dan Kedekatan Emosional
Secara emosional, Cinta Seng Pasti bukan lagu kemarahan, melainkan lagu penerimaan. Tokoh utama tidak sepenuhnya menyalahkan perempuan yang dicintainya. Ia justru mengakui kekalahannya sendiri jatuh cinta pada seseorang yang belum selesai dengan masa lalu.

Pengulangan kalimat “Beta yang kalah” di bagian akhir menjadi penutup yang sunyi namun menghantam. Kekalahan tanpa perlawanan. Kekalahan yang diterima dengan kepala tegak, meski hati remuk pelan-pelan.

Dengan bahasa lokal Maluku yang lugas dan penuh rasa, Fresly Nikijuluw menghadirkan cerita yang terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata. Cinta Seng Pasti menjadi cermin bagi mereka yang pernah bertahan dalam harapan, mencintai tanpa kepastian, lalu akhirnya sadar bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimenangkan.

Lagu ini menegaskan satu hal: cinta tanpa kepastian hanya akan memperpanjang luka. Namun di balik itu, ada keberanian untuk jujur pada perasaan, dan keberanian untuk menerima kenyataan ketika cinta datang di waktu yang salah.