Scroll untuk baca artikel
Sosial

HUT ke-75 Teofani, Keluarga Besar A3 Diajak Jaga Persatuan, Kerendahan Hati dan Kasih

×

HUT ke-75 Teofani, Keluarga Besar A3 Diajak Jaga Persatuan, Kerendahan Hati dan Kasih

Sebarkan artikel ini
Kumpulan foto Perayaan HUT Theofani yang ke-75 Keluarga besar A3 Di Timika (Foto: Yani/ Torangbisa.com).

Timika, Torangbisa.com – Keluarga besar A3 (Ayamaru, Aitinyo, dan Aifat) di Kabupaten Mimika memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Teofani melalui ibadah syukuran di Gereja Baptis Anugerah Indonesia, belakang Pengadilan Negeri, Timika, Rabu (21/10/2026) malam.

Ibadah tersebut menjadi momentum ucapan syukur atas perjalanan iman Teofani yang diperingati setiap 21 Oktober, sekaligus mengingatkan umat untuk terus memelihara empat pesan utama, yakni persatuan, kerendahan hati, kasih, dan penghormatan kepada semua orang.

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

Perayaan tahun ini menandai 75 tahun peristiwa iman Teofani yang diperingati sejak 21 Oktober 1951. Kegiatan tersebut dihadiri keluarga besar A3 yang berdomisili di Timika dan berasal dari berbagai latar belakang gereja.

Ibadah dipimpin dengan khotbah oleh Pdt. Yance Iek yang mengangkat firman Tuhan dari Ulangan 7:12-13. Dalam khotbahnya, ia menekankan pentingnya ketaatan kepada Tuhan dengan mendengarkan dan melakukan perintah-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengingatkan bahwa umat tidak hanya mengharapkan berkat Tuhan, tetapi juga harus menunjukkan ketaatan melalui tindakan nyata. Pesan tersebut diperkuat melalui kisah Abraham dalam Kejadian 12:1-2, yang menunjukkan kesediaan mengikuti perintah Tuhan, serta Matius 6:33 tentang pentingnya mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya terlebih dahulu.

Pdt. Yance Iek juga mengajak jemaat memelihara empat nilai utama yang menjadi pesan dalam peristiwa Teofani, yaitu persatuan, kerendahan hati, kasih, dan penghormatan kepada sesama.

Persatuan menjadi dasar untuk membangun kehidupan yang rukun, sedangkan kerendahan hati mengajarkan umat agar tidak meninggikan diri. Kasih menjadi landasan untuk membawa berkat bagi sesama, sementara penghormatan kepada orang lain harus diwujudkan dalam sikap dan perbuatan sehari-hari.

Ketua Kerukunan KKA3, Pithein S. Jitmau, SE, mengatakan peringatan Teofani merupakan bagian penting dari perjalanan iman keluarga besar A3 yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ia menjelaskan, peristiwa iman tersebut berawal pada 21 Oktober 1951 di wilayah A3. Pesan yang diterima Rasul Ruben Rumbiak kemudian diteruskan kepada lima tokoh, yakni Abraham Kambuaya, Simon Isir, Peter Hawai, Marcus Elosa, dan Habel Kamonete.

Pesan tersebut ditujukan kepada pemuda-pemudi A3 agar menjadi generasi pembangun yang membawa perubahan bagi Papua dan dunia dengan berpegang pada empat nilai utama.

Menurut Pithein, pesan tersebut tidak cukup hanya dikenang dalam perayaan tahunan, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan keluarga, gereja, dan masyarakat.

Ia mengajak seluruh keluarga besar A3 di Tanah Papua, khususnya di Mimika, agar tetap menjaga persatuan dan kerendahan hati serta menumbuhkan kasih dan rasa hormat kepada semua orang.

Pithein mengibaratkan pesan iman yang diwariskan para pendahulu seperti benih yang harus terus dipelihara agar bertumbuh dan menghasilkan buah.

“Yang sudah ada harus dipupuk, dijaga, dan dirawat agar terus bertumbuh serta menghasilkan buah. Begitu juga dengan empat pesan ini, harus terus kita pelihara supaya membawa berkat bagi generasi berikutnya,” demikian pesan yang disampaikan dalam peringatan tersebut.

Ia juga menekankan bahwa ketaatan dalam menjalankan kewajiban menjadi bagian penting dalam kehidupan umat. Karena itu, keluarga besar A3 diharapkan tidak hanya menuntut hak, tetapi juga menjalankan tanggung jawab dalam menjaga persaudaraan dan membangun lingkungan yang lebih baik.

Sementara itu, Wakil Ketua I Kerukunan KKA3, Matius Way, mengatakan peristiwa Teofani memiliki makna mendalam bagi masyarakat A3, khususnya masyarakat yang berasal dari tiga wilayah induk, yakni Ayamaru, Aitinyo, dan Aifat, yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.

Menurutnya, Teofani bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan pengingat agar keluarga besar A3 terus menjalankan empat pesan iman yang diwariskan kepada mereka.

Matius menjelaskan, peringatan Teofani di Timika dilaksanakan secara bergantian di berbagai gereja karena keluarga besar A3 tersebar dalam sejumlah denominasi, mulai dari GKI, Katolik, Pentakosta, Baptis, Bethel, Sidang Lima Talenta hingga GPI di Jalan Suti.

“Setiap tahun kami berpindah-pindah tempat karena keluarga besar A3 tersebar di berbagai gereja. Tahun ini ibadah dilaksanakan di Gereja Baptis Anugerah Indonesia, dan tahun berikutnya bisa dilaksanakan di gereja yang lain,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, persiapan ibadah syukuran tahun ini dilakukan dalam waktu relatif singkat. Meski demikian, keluarga besar A3 menunjukkan antusiasme dan semangat kebersamaan untuk menyukseskan kegiatan tersebut.

Pelaksanaan acara dilakukan secara gotong royong. Masing-masing kelompok turut mengambil bagian dalam persiapan, termasuk menyediakan makanan dari rumah untuk dinikmati bersama.

Bagi Matius, kebersamaan tersebut merupakan salah satu wujud nyata dari pesan persatuan yang harus terus dipelihara oleh keluarga besar A3.

Ia berharap, peringatan Teofani dapat terus menjadi sarana memperkuat iman, persaudaraan, dan tanggung jawab bersama dalam membangun masyarakat serta masa depan Tanah Papua.

Melalui peringatan HUT ke-75 Teofani, keluarga besar A3 diharapkan terus menghidupi empat pesan utama, yakni persatuan, kerendahan hati, kasih, dan penghormatan kepada semua orang, sehingga nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai pesan sejarah, tetapi benar-benar menjadi pedoman hidup bagi generasi sekarang dan yang akan datang.