Timika, Torangbisa.com – Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Mimika, Rafael Taorekeyau, mendorong alumni penerima beasiswa YPMAK yang tergabung dalam PAPEDA agar lebih aktif berorganisasi dan meningkatkan kompetensi untuk menghadapi tantangan dunia kerja.
Hal itu disampaikan Rafael saat diwawancarai awak media di Hotel Horizon Diana, Timika, Rabu (21/10/2026), dalam workshop bertema “Eksistensi Alumni untuk Masa Depan Ketenagakerjaan di Tanah Amungsa Bumi Kamoro”.
Rafael mengatakan, berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, YPMAK hingga dunia usaha, termasuk PT Freeport Indonesia, memiliki sistem kerja yang terstruktur. Karena itu, pemuda perlu membangun kemampuan berorganisasi agar mampu beradaptasi dan bekerja sama menghadapi berbagai tantangan.
Menurut Rafael, penguatan organisasi alumni perlu berjalan beriringan dengan peningkatan keterampilan tenaga kerja melalui pelatihan dan sertifikasi.
Dengan begitu, pemuda asli Papua, khususnya Amungme dan Kamoro, dapat memiliki kesiapan lebih baik untuk mengambil bagian dalam dunia kerja dan pembangunan di Kabupaten Mimika.
Ia menilai PAPEDA memiliki potensi besar karena menghimpun banyak alumni penerima beasiswa. Namun, potensi tersebut perlu didukung dengan keterlibatan anggota yang lebih aktif.
“PAPEDA ini sangat baik dan mestinya bisa berkembang lebih besar karena jumlah alumninya banyak. Mungkin minimnya keterlibatan alumni menjadi salah satu hal yang menghambat,” ujarnya.
Ia berharap workshop tersebut dapat membangkitkan semangat alumni untuk bergabung dan berkontribusi melalui organisasi. Menurutnya, keterlibatan pemuda Papua dalam berbagai organisasi kepemudaan, termasuk KNPI dan kelompok Cipayung, masih perlu ditingkatkan.
Rafael menegaskan, tantangan saat ini tidak bisa dihadapi secara individual. Dibutuhkan kerja sama, koordinasi, serta kesediaan mengesampingkan kepentingan pribadi demi mencapai tujuan bersama.
“Untuk menghadapi sistem, kita harus dengan sistem. Tidak bisa individual, karena tidak akan selesai kalau berjalan sendiri-sendiri. Ego masing-masing perlu dilepaskan,” tegasnya.
Selain penguatan organisasi, Rafael juga menyoroti pentingnya penyediaan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal.
Menurutnya, pelatihan dan sertifikasi menjadi bekal penting bagi pencari kerja agar memiliki kompetensi sesuai kebutuhan perusahaan dan dunia usaha.
“Saya kira pemerintah wajib menyediakan balai latihan kerja. Zaman sekarang sertifikasi sangat penting untuk memasuki lapangan pekerjaan. Di perusahaan maupun di tempat lain, perlu ada keahlian khusus yang tersertifikasi,” katanya.
Ia menjelaskan, BLK dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk memperoleh keterampilan praktis. Karena itu, pemerintah perlu terus mendorong pelatihan kerja yang berkualitas dan sesuai kebutuhan pasar kerja.
Rafael juga menekankan bahwa sumber daya manusia tidak cukup hanya dilihat dari tingkat pendidikan atau gelar akademik. Menurutnya, lulusan perlu memperoleh kesempatan untuk menerapkan ilmu dan keterampilannya melalui pekerjaan maupun program pemberdayaan.
“Manusia belum bisa disebut sumber daya manusia ketika dia tidak diberdayakan. Sumber daya manusia itu orang yang sudah diberdayakan,” ujarnya.
Ia mencontohkan, seseorang dapat menyelesaikan pendidikan hingga jenjang tinggi, tetapi kemampuan yang dimilikinya belum dapat dimanfaatkan secara maksimal apabila tidak memperoleh kesempatan untuk bekerja dan mengembangkan diri.
Karena itu, Rafael mendorong agar peningkatan kompetensi berjalan seiring dengan pembukaan akses kerja dan pemberdayaan tenaga kerja lokal.
Ia berharap alumni tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi juga mampu mengembangkan potensi dan berkontribusi bagi masyarakat.

















