Scroll untuk baca artikel
Berita Lokal

WRI Indonesia Kaji Potensi Pertanian dan Perikanan Morotai, Sejauh Mana Ekonomi Masyarakat Bisa Ditingkatkan?

×

WRI Indonesia Kaji Potensi Pertanian dan Perikanan Morotai, Sejauh Mana Ekonomi Masyarakat Bisa Ditingkatkan?

Sebarkan artikel ini
WRI Indonesia mengelar diskusi pangan di aula Rektorat Unipas Morotai, foto: (AI/Torangbisa.com)

Morotai, Torangbisa.com — Potensi perkebunan kelapa dan perikanan di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, menjadi perhatian World Resources Institute Indonesia (WRI Indonesia).

Melalui Program Ekonomi Pangan Baru, WRI berupaya mengidentifikasi persoalan sistem pangan sekaligus mencari peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi yang dapat dinikmati masyarakat, terutama petani dan nelayan.

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Rektorat Universitas Pasifik Morotai (Unipas), Kamis (15/10/2026), Di mediasi Oleh Dekan Dan Dosen Perikanan, juga Dosen Fkip Unipas, dengan melibatkan perwakilan petani dan nelayan dari Desa Rahmat dan Sangowo, kalangan akademisi, dosen, serta perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unipas.

Peneliti WRI Indonesia, Stanislaus Demokrasi Sandyawan (Momo), menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan memperkenalkan pendekatan baru dalam melihat sistem pangan. Menurutnya, persoalan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketahanan pangan, tetapi juga bagaimana sistem tersebut mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat dan daerah.

“Intinya, bagaimana kita memperkenalkan pendekatan baru dalam melihat sistem pangan agar bisa memberikan manfaat ekonomi yang lebih tinggi bagi masyarakat maupun daerah,” jelasnya.

Di Morotai, kajian diarahkan pada potensi perkebunan kelapa dan sektor perikanan yang menjadi bagian penting dari penghidupan masyarakat. Kedua sektor ini memiliki peluang ekonomi yang perlu dikaji lebih jauh agar manfaatnya tidak hanya dilihat dari besarnya sumber daya, tetapi juga dari nilai ekonomi yang dapat dihasilkan.

Namun, besarnya potensi sumber daya belum dengan sendirinya menjamin peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan. Persoalan yang perlu dijawab ialah bagaimana potensi tersebut dapat memberikan nilai tambah, membuka peluang usaha, dan meningkatkan pendapatan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perikanan.

Momo menjelaskan, Morotai menjadi salah satu wilayah yang dipilih karena karakteristiknya sebagai wilayah terluar, dengan potensi ekonomi biru, terutama perikanan, serta perkebunan kelapa yang cukup besar.

Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menggali persoalan yang dihadapi masyarakat. Diskusi juga membahas tantangan perubahan iklim serta strategi untuk menghadapi dampaknya terhadap sistem pangan dan mata pencaharian warga.

Kajian ini menjadi penting karena persoalan ekonomi masyarakat tidak cukup dijawab hanya dengan mengidentifikasi potensi. Diperlukan pemahaman mengenai hambatan yang dihadapi petani dan nelayan, termasuk persoalan pengelolaan sumber daya, pemasaran, serta peluang peningkatan nilai tambah hasil produksi. Aspek-aspek tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut melalui temuan lapangan.

Secara nasional, Program Ekonomi Pangan Baru dilaksanakan di 17 kabupaten/kota, mulai dari Sumatera hingga kawasan timur Indonesia. Kajian lintas wilayah ini diharapkan dapat menggambarkan keragaman sistem pangan sekaligus mengidentifikasi persoalan dan peluang pengembangannya.

Setelah kegiatan lapangan, WRI Indonesia berencana membangun komunikasi dengan pemerintah daerah melalui dialog dan diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD).

Forum ini akan digunakan untuk membandingkan temuan lapangan dengan persoalan yang diketahui pemerintah, sekaligus membahas perkembangan penanganan dan kemungkinan penyelesaiannya.

Hasil kajian nantinya diharapkan menjadi rekomendasi dalam laporan khusus bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Rekomendasi tersebut akan diarahkan kepada instansi yang memiliki kewenangan sesuai pembagian urusan pemerintahan.

Dengan demikian, tantangannya bukan sekadar memetakan potensi kelapa dan perikanan Morotai, melainkan bagaimana temuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi langkah konkret yang memberikan manfaat ekonomi bagi petani, nelayan, dan masyarakat setempat.

Tim WRI Indonesia yang melakukan kajian di Morotai terdiri atas Stanislaus Demokrasi Sandyawan (Momo), Vania Theresia, Sadiid Arifin, dan Rafie Mohammad, dengan latar belakang keilmuan multidisiplin.