Semarang, Torangbisa.com — Kabar gembira bagi pemerintah Papua Pegunungan, dunia akademik, masyarakat, dan pemangku kepentingan (stakeholder) di wilayah adat Lapago (Papua Pegunungan) maupun tanah Papua umumnya.
Perempuan asli tanah Papua dari Papua Pegunungan, Faradiba Anugerah Kaay Tabuni, S.Psi, Psikolog, membukukan alias mencatatkan namanya sebagai psikolog pertama lulusan Universitas Katolik Soegijapranata (Soegijapranata Catholic University/SCU), Semarang, Jawa Tengah, Kamis (29/1/2026).
“Saya memanjatkan syukur kepada Tuhan atas kuasa-Nya sehingga boleh menyelesaikan studi hingga meraih profesi psikolog di jurusan Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata. Saya juga bersyukur, capaian akademik ini juga berkat doa dan dukungan suami, anak-anak, keluarga terkasih, dan semua pihak,” ujar Faradiba Anugerah Kaay di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (31/1/2026).
Faradiba Kaay mengaku, prestasi akademik ini juga sangat berkesan dan dilewati penuh perjuangan. Namun, prestasi itu juga ditopang pengalamannya aktif dan bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Tangan Peduli Yayasan Kemanusiaan, pengalaman menjadi konselor dan keterlibatannya dalam proses pendampingan ODHA dan anak-anak jalanan di Kabupaten Jayawijaya.
“Pengalaman sebelumnya menjadi asisten Dokter SP.Kj (Psikiater) di RSUD Wamena juga sangat membantu saya merampungkan kuliah hingga meraih profesi psikolog. Dalam berbagai pengalaman sebelumnya saya melihat banyak pasien yang perlu ditolong tanpa obat tetapi melalui terapi,” kata Faradiba Kaay.
Faradiba Kaay mengaku, tahun 2024 ia memutuskan untuk melanjutkan studi profesi Psikolog di Unika Soegijapranata Semarang.
Ia Bersama puluhan rekannya tercatat menjadi angkatan pertama di Unika Soegijapranata, yang dikenal kampus terbaik jurusan Psikologi di Jawa Tengah.
“Unika Soegijapranata salah satu penyelenggaraan pendidikan profesi psikolog dari 19 universitas di seluruh Indonesia,” ujar Faradiba Kaay.
Faradiba Anugerah Kaay, Kamis (29/1) lulus Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata (Soegijapranata Catholic University/SCU) sekaligus disumpah sebagai Psikolog angkatan pertama di Kampus SCU, Jalan Pawiyatan Luhur, Bendan Dhuwur, Semarang, Jawa Tengah.
Faradiba Anugerah Kaay juga bagian penting Fakultas Psikologi SCU di mana fakultas itu menorehkan tonggak sejarah baru dengan meluluskan 47 psikolog dari angkatan pertama Program Pendidikan Profesi Psikolog.
Para lulusan ini mengikuti sumpah profesi psikolog pada Kamis (29/1) sebagai penanda kesiapan mereka memberikan layanan psikologi secara profesional kepada masyarakat.
Rektor SCU Ir Robertus Setiawan Aji Nugroho, ST, M.Comp.IT, Ph.D mengatakan, kelulusan ini merupakan bentuk kesiapan SCU dalam menjawab perubahan regulasi pendidikan psikologi nasional pasca ditetapkannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2022 tentang Pendidikan dan Layanan Psikologi (UU PLP).
“UU PLP menegaskan pemisahan jalur akademik dan profesi. SCU secara institusional berkomitmen memastikan lulusan profesi psikolog tidak hanya memenuhi standar regulasi, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan integritas moral,” ujar Aji Nugroho.
Dekan Fakultas Psikologi SCU Dr Dra Kristiana Haryanti, M.Si, Psikolog dalam kesempatan itu menjelaskan, Program Profesi Psikolog SCU memiliki sejarah panjang sejak 1999 dan terus beradaptasi mengikuti dinamika kebijakan nasional.
“Mulai dari sarjana plus, magister psikologi profesi hingga kembali ke jenjang profesi psikolog umum pada 2022, kami menjaga mutu pendidikan agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan kebijakan pemerintah,” kata Haryanti.
Haryanti menambahkan, meski kurikulum mengalami perubahan, karakter lulusan SCU tetap konsisten, yakni psikolog yang kompeten dalam layanan promotif, preventif, dan kuratif, menjunjung etika profesi serta berpijak pada nilai-nilai kristiani seperti cinta kasih, keadilan, dan kejujuran.
Sementara itu Ketua Program Profesi Psikolog SCU Dr Suparmi, M.Si, Psikolog dalam kesempatan itu memaparkan proses pendidikan yang telah dilalui oleh para calon psikolog.
Mahasiswa angkatan pertama menempuh pendidikan selama tiga semester, terdiri dari satu semester teori dan dua semester praktik layanan psikologi di lapangan.
“Pada semester keempat, mereka mengikuti Uji Kompetensi Profesi Psikolog Umum bersama HIMPSI dan dinyatakan layak menyandang profesi psikolog,” ujar Suparmi lebih lanjut.
Menurut Suparmi, pelaksanaan sumpah profesi untuk angkatan pertama ini dilakukan secara khusus dan terpisah dari yudisium fakultas sebagai bentuk penghormatan atas pencapaian bersejarah tersebut.
Dari sisi lulusan, Ellena Ayu Susanto dan Faradiba Anugrah Kaay, perwakilan lulusan angkatan pertama Program Profesi Psikolog SCU mengungkapkan, proses pendidikan yang mereka jalani tidak hanya membentuk kompetensi keilmuan, tetapi juga kepekaan kemanusiaan.
“Pembelajaran di SCU sangat kaya karena kami datang dari latar budaya dan pengalaman yang berbeda. Hal ini memperluas cara pandang kami dalam memahami manusia secara utuh,” ujar Ayu Susanto dan Faradiba Kaay.
Lulusan angkatan pertama berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Papua, Nusa Tenggara, Maluku, Kalimantan, Bali, Sumatra hingga Jawa. Mereka berasal dari latar belakang profesi beragam seperti pemilik sekolah, penggerak komunitas, terapis anak hingga biarawati.
Keberagaman tersebut menjadi kekuatan khas pendidikan profesi psikolog di SCU yang mengedepankan pendekatan biopsikososial sekaligus mempertegas komitmen Fakultas Psikologi SCU dalam mewujudkan pemerataan layanan kesehatan mental di Indonesia melalui pengabdian para lulusannya di daerah asal masing-masing.
Saat menyampaikan sambutan mewakili para lulusan, Faradiba Kaay mengajak hadirin memanjatkan puji syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa karena dapat dipertemukan dalam momen yang sangat bermakna yaitu yudisium dan pengambilan sumpah/janji profesi psikolog.
“Bagi kami, para psikolog yang mengikuti yudisium dan pengambilan sumpah/janji profesi psikolog, bukan sekadar acara seremoni melainkan titik balik dari perjalanan belajar menjadi perjalanan mengabdi dan dari ruang kelas menuju ruang-ruang kehidupan manusia yang nyata,” ujar Faradiba Kaay.
Sumpah/janji profesi yang diucapkan adalah pengingat bahwa menyandang sebutan psikolog berarti memikul tanggung jawab moral, ilmiah, dan etis.
Hal ini, katanya, bukan akhir dari pendidikan tetapi awal dari sebuah komitmen untuk menjaga martabat manusia, melindungi kerahasiaan, menghormati otonomi klien, bekerja berdasarkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan terus belajar sepanjang hayat.
“Sebagai angkatan pertama pendidikan profesi psikolog, kami menempuh perjalanan yang tidak selalu mudah. Kami datang dari latar belakang yang beragam, baik wilayah, budaya, pengalaman hidup, dan keragaman tetapi semua itu menjadi kekuatan kami. Dalam proses ini, kami belajar bahwa psikologi tidak hidup di ruang hampa. Ia selalu bertemu dengan manusia yang membawa cerita, luka, harapan, dan konteks sosial yang kompleks,” kata Faradiba Kaay.
Menurutnya, ia bersama rekan-rekannya juga belajar bahwa menjadi psikolog bukan tentang menjadi yang paling tahu, melainkan tentang menjadi yang paling sadar. Sadar akan batas diri, sadar akan konteks klien, dan sadar akan etika yang harus dijaga. Mereka ditempa untuk berpikir kritis, bekerja dengan cermat, dan hadir dengan empati tanpa kehilangan ketegasan profesional.
“Izinkan saya menyampaikan refleksi singkat yang sekaligus menjadi suara syukur dan harapan. Saya berasal dari Provinsi Papua Pegunungan, wilayah yang kaya budaya tetapi juga lama hidup dalam keterbatasan layanan kesehatan jiwa. Saya menyaksikan bagaimana banyak orang memendam beban batin tanpa ruang aman untuk bercerita. Tidak semua orang memiliki akses pada pendampingan psikologis. Tidak semua luka sempat diberi bahasa dan tidak semua sistem siap menampung kebutuhan pemulihan,” katanya.
Pengalaman itu diakui Faradiba Kaay menanamkan satu kesadaran yang kuat. Niat baik saja tidak cukup. Tanpa kompetensi, etika, kepekaan budaya, dan niat baik justru bisa melukai.
Pendidikan profesi ini menolong saya dan kami semua untuk memahami bahwa tugas psikolog bukan menjadi penyelamat, melainkan menjadi rekan perjalanan bagi individu, keluarga, dan komunitas dalam proses pemulihan mereka.
“Belajar dan praktik di tanah rantau juga memperluas cara pandang kami. Kami bertemu dengan sistem layanan, budaya, dan bahasa psikologis yang beragam. Di situ kami semakin memahami bahwa intervensi yang baik bukan yang paling canggih, tetapi yang paling manusiawi dan kontekstual. Psikologi yang hadir tanpa memahami budaya berisiko menjadi bentuk kekerasan yang halus. Karena itu, kami ingin membawa ilmu dengan kerendahan hati, belajar memahami sebelum menyimpulkan, dan mendengar sebelum memberi makna,” ujarnya.














