Timika, Torangbisa.com – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Mimika tengah fokus pada penataan dan pengembangan gedung kantor beserta lingkungan sekitarnya.
Fokus tersebut sebagai pertimbangkan kebutuhan jangka panjang hingga 20–30 tahun ke depan.
Hal tersebut disampaikan Gabriel Rettobyaan saat kunjungan DPRK dan awak media, Rabu (21/01/2026).
Ia menjelaskan bahwa lokasi gedung Kemenag saat ini sudah tepat, namun perlu penataan ulang, khususnya pada akses dan ruang lingkungan agar lebih terbuka dan representatif.
“Tempatnya sudah pas di sini, tetapi mungkin perlu ditata lagi, seperti tangga dan ruang lingkungannya yang harus dibuat lebih lebar. Kita harus berpikir ke depan, 20 sampai 30 tahun yang akan datang, karena nantinya akan banyak orang masuk ke sini,” ujarnya.
Menurut Gabriel, peningkatan jumlah umat di masa mendatang harus diantisipasi sejak sekarang, termasuk kebutuhan perluasan rumah ibadah.
Ia menilai area yang tersedia saat ini belum cukup dan harus disiapkan ruang yang lebih terbuka tanpa hambatan di sisi kiri dan kanan.
“Kalau kita hanya berpikir sekarang karena umat masih sedikit, lalu diberi ruang terbatas, ke depan pasti bermasalah. Ketika jumlah umat bertambah dan rumah ibadah harus diperbesar, konflik bisa saja terjadi,” jelasnya.
Ia menambahkan, perencanaan yang matang sangat penting agar generasi mendatang tidak menghadapi persoalan terkait pendirian dan perluasan rumah ibadah.
“Kita ingin meninggalkan warisan yang baik untuk anak cucu ke depan, supaya mereka tidak bertengkar soal tempat ibadah,” tambahnya.
Selain penataan lingkungan, Gabriel juga menyampaikan kerinduannya agar wajah Kantor Kementerian Agama Mimika dapat didesain ulang menjadi lebih representatif sebagai simbol pelayanan urusan dunia dan akhirat. Ia mengaku telah menyampaikan gagasan tersebut saat audiensi dengan Bupati Mimika.
“Kantor-kantor pemerintah kita bagus, tapi kantor yang mengurusi urusan dunia dan akhirat ini justru terlihat kurang menarik. Kami sempat membuat gambar desain dan menyerahkannya kepada Bapak Bupati,” ungkapnya.
Meski demikian, Gabriel memahami keterbatasan anggaran karena pada tahun sebelumnya Kemenag Mimika telah menerima bantuan. Ia berharap dengan dukungan DPRK Mimika, wajah Kantor Kemenag dapat ditata kembali agar menjadi ikon pelayanan keagamaan di daerah.
Lebih lanjut, Gabriel juga menyinggung perlunya pertemuan antara Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, dan DPRK Mimika guna menyatukan persepsi terkait pengelolaan pendidikan, khususnya pendidikan keagamaan.
Ia menegaskan bahwa di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Mimika tidak terdapat masalah terkait pembayaran hak guru agama.
“Tidak ada satu pun guru agama di bawah Kemenag yang tidak dibayarkan. Tidak ada penundaan pembayaran, semuanya kami bayarkan,” tegasnya.
Gabriel menambahkan, Bupati Mimika juga telah memberikan perhatian serius terkait isu pembayaran guru agama dan menegaskan agar tidak ada pihak yang mengambil hak guru tanpa dasar yang jelas.
“Kami di Kemenag tidak punya masalah. Guru-guru agama, termasuk yang sudah sertifikasi dan berada di bawah Kemenag, semuanya dibayar. Kalau di dinas atau yayasan, itu sudah menjadi kewenangan masing-masing,” jelasnya.
Ia berharap ke depan ada regulasi yang lebih sederhana dan adil dalam pengelolaan pendidikan keagamaan, agar pembagian kewenangan dan dukungan anggaran dapat berjalan dengan baik tanpa tumpang tindih.















