Pendidikan

18 SPPG Terbentuk, 30 Ribu Pelajar di Mimika Sudah Terima MBG

×

18 SPPG Terbentuk, 30 Ribu Pelajar di Mimika Sudah Terima MBG

Sebarkan artikel ini
Koordinator Regional MBG Provinsi Papua Tengah, Nalensius Situmorang. Saat diwawancarai awak media (Foto: Yani/ Torangbisa.com)

Timika, Torangbisa.com – Koordinator Regional MBG Provinsi Papua Tengah, Nalensius Situmorang, menyebutkan bahwa pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mimika menunjukkan perkembangan signifikan setelah satu tahun berjalan.

Hal tersebut disampaikannya saat ditemui wartawan di Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, Kamis (12/02/2026).

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

usai mengikuti rapat koordinasi bersama Satuan Tugas (Satgas) MBG dan Wakil Bupati Mimika selaku Ketua Satgas.

Nalensius menjelaskan, dari hasil rapat koordinasi tersebut, program MBG di Mimika dinilai berjalan cukup baik dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Peran Satgas pun dinilai semakin jelas dalam mendukung kelancaran pelaksanaan program.

“Setelah satu tahun berjalan, ini perkembangan yang cukup signifikan. Kabupaten Mimika mulai berjalan pada 28 Juli, dan sampai saat ini sudah terbentuk 18 SPPG,” ujarnya.

Ia memaparkan, jumlah penerima manfaat MBG di Mimika saat ini telah mencapai lebih dari 30 ribu peserta didik. Sementara untuk kategori non-peserta didik seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, jumlah penerima masih berada di kisaran seribuan.

Untuk sebaran sekolah penerima manfaat, program MBG saat ini baru menjangkau empat distrik, yakni Mimika Baru, Wania, Kuala Kencana, dan Mimika Timur. Sementara 14 distrik lainnya belum terjangkau.

“Baru di empat distrik itu yang tersebar. Makanya dari hasil rapat koordinasi, kita dorong percepatan pembentukan SPPG di wilayah terpencil agar wilayah pinggiran dan pedalaman juga segera mendapatkan MBG, bukan hanya wilayah perkotaan,” jelasnya.

Nalensius menambahkan, mekanisme pelaksanaan MBG di wilayah aglomerasi atau perkotaan berbeda dengan wilayah terpencil.

Untuk daerah pedalaman, pengajuan dan usulan dilakukan melalui Satgas, dengan melibatkan investor lokal serta yayasan-yayasan lokal sebagai pengelola.

Terkait masih adanya sekolah di empat distrik yang belum mendapatkan MBG, ia mengakui hal tersebut disebabkan keterbatasan jumlah SPPG.

“Jumlah dapur atau SPPG di sini baru 18 unit. Satu dapur hanya mencakup sekitar 2.500 sampai 3.000 penerima. Karena jumlahnya masih terbatas, belum semua sekolah bisa terlayani,” katanya.

Ke depan, pihaknya bersama Satgas akan melakukan evaluasi dan peninjauan kebutuhan tambahan SPPG di Mimika guna memperluas jangkauan layanan.

Menjelang bulan puasa, Nalensius memastikan program MBG tetap berjalan. Meski surat edaran resmi belum diterbitkan dan masih menunggu petunjuk lebih lanjut, pihaknya menegaskan bahwa siswa tetap akan menerima MBG.

“Pada intinya, sekolah tetap berjalan dan siswa-siswa tetap mendapatkan MBG,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa pelaksanaan MBG mengacu pada petunjuk teknis yang mewajibkan pelibatan pangan lokal.

Hal tersebut telah direalisasikan, di antaranya dengan penggunaan ubi dan papeda dalam operasional perdana pada 8 Januari lalu.

“Dalam juknis sudah jelas kita libatkan pangan lokal. Itu sudah kami realisasikan,” pungkasnya.